Show simple item record

dc.contributor.authorJamilatun, Siti
dc.contributor.authorIsparulita, Intan Dwi
dc.contributor.authorPutri, Elza Novita
dc.date.accessioned2014-12-05T01:05:12Z
dc.date.available2014-12-05T01:05:12Z
dc.date.issued2014-11-25
dc.identifier.citationCooney DO. 1980. Activated Charcoal,Antidotal, and Other Medical Uses. New York: Marcel Dekker, Ann Arbor, Michigan. Hudaya N, Hartoyo. 1990. Pembuatan Arang Aktif dari Tempurung Biji-Bijian Asal Tanaman Hutan dan Perkebunan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 8(4):146-149. Kienle HV. 1986. Carbon. Di dalam Campbell, PT Prefferkorn R., dan Roundsaville JF. Ullman's Encyclopedia of Industrial Chemistry, 5th Completely Revised Ed. Vol A5: Cancer Chemotherapy to Ceramics Colorants. Weinheim: VHC Pari G. 1996. Pembuatan arang aktif dari serbuk gergajian sengon dengan cara kimia. Buletin Penelitian Hasil Hutan 14:308-320. Pari G. 2004. Kajian struktur arang aktif dari serbuk gergajian kayu sebagai adsorben emisi formaldehida kayu lapis [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. [SNI] Standar Nasional Indonesia. 1995. SNI 06-3730-1995: Arang Aktif Teknis. Jakarta: Dewan Standarisasi Nasional.en_US
dc.identifier.issn2339-028X
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/5039
dc.description.abstractArang aktif adalah arang yang telah mengalami proses aktivasi untuk meningkatkan luas permukaannya dengan jalan membuka pori-porinya sehingga daya adsorpsinya meningkat. Luas permukaan arang aktif berkisar antara 300 dan 3500 m2/g. Daya jerap arang aktif sangat besar, yaitu ¼ sampai 10 kali terhadap bobot arang aktif. Arang aktif merupakan adsorben yang baik untuk adsorpsi gas, cairan, maupun larutan. Adsorpsi terjadi jika gaya tarik Van der Waals oleh molekul-molekul di permukaan lebih kuat daripada gaya tarik yang menjaga adsorbat tetap berada dalam fluida. Larutan pengaktivasi yang digunakan adalah asam sulfat. Asam sulfat digunakan untuk merendam arang bertujuan untuk meningkatkan volume dan memperbesar diameter pori setelah mengalami proses karbonisasi dan meningkatkan penyerapan. Asam sulfat memiliki tingkat kestabilan yang tinggi dibaningkan dengan pengaktivasi yang lain.(Kienle,1986). Tahap pengaktivasian menghasilkan arang aktif dengan karakteristik tertentu. Karakteristik arang aktif diantaranya adalah uji kadar air, kadar abu, dan penyerapan terhadap iod. Pembuatan arang aktif diawali dengan aktivasi perendaman selama 24 jam dengan menggunakan larutan H2SO4 2N, setelah itu ditiriskan lalu dioven untuk menghilangkan air yang masih tersisa. Pengujian terhadap kadar air dilakukan dengan menimbang 1 gram arang aktif lalu mengovennya pada suhu 105-110oC selama 120 menit. Pengujian kadar abu dengan menimbang arang aktif sebanyak 1 gram lalu memasukkan pada furnace dengan suhu 500oC selama 30 menit, menaikkan suhu ke 815 oC selama 90 menit. Penentuan daya serap terhadap Iodium yaitu dengan menimbang arang aktif sebanyak 0,5 gram dan mencampur dengan 50 ml larutan iodium 0,1 N. Menggojoknya selama 15 menit. Mengambil 10 ml larutan sampel dan menitrasi dengan larutan natrim thio sulfat 0,1 N. Menambahkan larutan amylum 1% sebagai indikator hingga hasil titrasi menjadi tak berwarna. Pada penelitian ini dihasilkan kondisi optimum pada suhu pengovenan 1000oC selama 60 menit. Arang aktif yang didapatkan pada kondisi ini memiliki kemampuan adsorbsi yang baik dengan kadar penyerapan iod yang tinggi sebesar 529,94 mg I2/gram arang.en_US
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Surakartaen_US
dc.subjecttempurung kelapaen_US
dc.subjectarang aktifen_US
dc.subjectaktivasien_US
dc.subjectkarakteristiken_US
dc.titleKarakteristik Arang Aktif dari Tempurung Kelapa dengan Pengaktivasi H2SO4 Variasi Suhu dan Waktuen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record