Show simple item record

dc.contributor.authorRahayu, Budi
dc.date.accessioned2016-12-24T04:19:39Z
dc.date.available2016-12-24T04:19:39Z
dc.date.issued2016-05-21
dc.identifier.citationAufschnaiter, C., & Rogge, C. 2010. Misconception or Missing Conception? Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 6 (1), 3-18. Cakir, M. (2008). Contructivist Approaches to Learning in Science and Their Implications for Science Pedagogy: A. Literature Review. International Journal of Environmental & Science Education, 3 (4), hlm 193-206. Dahar, R. W. (2011). Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga. Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Ilmu Pengetahuan Alam, Keterampilan Proses Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Direktorat Pendidikan Dasar Lanjutan Pertama. Durmus, J. & Bayraktar. (2010). Effects of Conceptual Change Texy and Laoratory Experiments on Fourth Grade Students’ Understanding of Matter and Change. Journal of Sciense Education and Technology, (19), pp 498-504. Gagne, R. M. & Briggs, L. J. (1975). The Principles of Instructional Design (1 st . ed.). New York, NY: PrenticeHall, Inc. Gagne, R. (1985). The Condition of Learning (4 th ed.) New York: Holt, Rinehart & Winston. Hasan, S., Bagayoko, D., & Kelly, E. L. (1999). Misconceptions and The Certainty Response Index (CRI). Phys. Educ. 34 hlm 295. Kampourakis, K. & Zogza, V. (2009). Preliminary Evolutionary Explanations: A Basic Framework for Conceptual Change and Explanatory Coherence in Evolution. Sci & Educ 18 hlm 1313–1340. DOI 10.1007/s11191-008-9171-5 Khawaled, S. A. & Olaimat, A. M. (2010). The Contribution of Conceptual Change Texts Accompanied by Concept Mapping to Eleventh-Grade Students Understanding of Celluler Respiration Concepts. J Sci Educ Technol (2010) 19:115–125. DOI 10.1007/s10956-009-9185-z, Published online: 29 July 2009 _ Springer Science+Business Media, LLC 2009 Seminar Nasional Pendidikan dan Saintek 2016 (ISSN: 2557-533X) Masril & Masna, N. (2002). Pengungkapan Miskonsepsi Siswa menggunakan Force Concept Inventory dan Certainity of response Index. Jurnal Himpunan Fisika Indonesia. (B5) hlm: 1-3. Michael, J., (2002) Misconception-what students think they know. Adv Physiol Educ 26 (1): 5-6. DOI: 10.1152/advan.00047.2001 Ozkan, O., Tekkaya, C., & Geban, O. (2004). Facilitating Conceptual Change in Students’ Understandi ng of Ecological Concepts. Journal of Science Education and Technology, 13(1) March 2004 pp 95-105. DOI: 10.1023/B:JOST.0000019642.15673.a3. Guy, R., (2012). Overcoming misconception in neurophysiology learning: an approach using color-codede animations. Adv Physiol Educ 36 pp 226-228. DOI: 10.1152/advan.00047.2012. Rustaman, N.Y. (2000). Konstruktivisme dan Pembelajaran IPA/Biologi. Makalah yang disampaikan pada seminar/lokakarya guru-guru IPA SLTP Sekolah Swasta di Bandung. Bandung: Jurusan Pendidikan Biologi. FMIPA UPI. Rustaman, N.Y,. (2008). Pendidikan Biologi dan Trend Penelitiannya. Bandung: FMIPA UPI. Sunandar, A. (2011). Analisis Penggunaan Peta Konsep sebagai Assessment Formatif pada Pembelajaran ekosistem Siswa SMA Kelas X Semester 2. Skripsi Jurusan Pendidikan Biologi Program Sarjana UPI. Bandung: Tidak diterbitkan. Tayubi, Y. R. (2005). Identifikasi Miskonsepsi pada Konsep-Konsep Fisika Menggunakan Certainty of response Index (CRI). Mimbar Pendidikan 3 (XXIV) hlm 4-9. Bandung: UPI Widodo, A. (2007). Konstruktivisme dan Pembelajaran Sains. Jurnal pendidikan dan Kebudayaan, No. 064, Tahun ke-13, Januari 2007. Widodo, A., & Nurhayati, L. (2005). Tahapan Pembelajaran yang Konstruktivis: Bagaimanakah Pembelajaran Sains di Sekolah? Paper untuk disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam pada tanggal 10 September 20005 di Bandung.in_ID
dc.identifier.issn2557-533X
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/8034
dc.description.abstractMiskonsepsi yang dialami oleh seorang siswa dalam proses pendidikan akan mempengaruhi proses asimilasi pengetahuan-pengetahuan baru yang akan didapat oleh siswa tersebut pada masa belajarnya. Miskonsepsi yang melekat pada siswa sampai akhir masa belajarnya dapat diibaratkan sebagai malpraktek dalam dunia pendidikan. Namun kesulitan yang akan timbul saat guru akan mengukur miskonsepsi seorang siswa adalah adanya pertanyaan apakah ia mengalami miskonsepsi atau tidak tahu konsep. Certainty Response Index (CRI) dikembangkan untuk mengidentifikasi terjadinya miskonsepsi sekaligus membedakannya dengan siswa yang tidak tahu konsep. Penelitian ini memusatkan pada peristiwa aktual saat pembelajaran berlangsung dan bertujuan untuk mengidentifikasi adakah miskonsepsi yang terjadi pada siswa SMA kelas XI untuk materi sistem saraf. Pentingnya penelitian ini, karena belum banyak penelitian pendidikan biologi yang menggunakan teknik CRI untuk mendeteksi miskonsepsi siswa SMA kelas XI pada materi Sistem Saraf Manusia. Sehingga diperlukan penelitian identifikasi miskonsepsi sebagai sumber data untuk mengevaluasi sistem pengajaran dan metode pengajaran. Penelitian ini juga berguna untuk memberikan rekomendasi bagi para guru dan mencari bentuk remediasi program pembelajaran materi sistem saraf. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif . Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 78 orang siswa kelas XI SMA, yang diambil dari kelas dan diajar oleh 2 orang guru yang berbeda. Pengumpulan data dijaring dengan menggunakan instrument soal tes CRI dengan bentuk pilihan ganda yang diberikan sebagai pre test dan post test sebanyak 30 soal. Penguatan hasil data yang di dapat, dilanjutkan dengan wawancara siswa dan guru. Peneliti juga melakukan observasi pada saat pembelajaran materi sistem saraf di kelas. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan persentase berdasarkan penghitungan nilai CRI yang didapat. Hasil dari penelitian ini di dapat, terjadi miskonsepsi pada beberapa sub materi sistem saraf yang menjadi fokus pembelajaran dan fokus materi belajar. Miskonsepsi yang didapat adalah hasil penelitian menunjukkan adanya miskonsepsi pada fungsi dan struktur sel saraf sebesar 4,85%, mekanisme impuls saraf sebesar 4,37%, sistem saraf pusat sebesar 2,93%, mekanisme gerak refleks sebesar 4,10%, sistem saraf tepi sebesar 7, 21% dan gangguan serta kelainan pada sistem saraf sebesar 9,21%. Kesimpulannya: sebagian kecil siswa mengalami miskonsepsi pada sistem saraf pusat, sebagian besar siswa mengalami miskonsepsi pada konsep neuron, konsep fungsi akson, konsep fungsi neuron sensorik dan cara kerja saraf simpatik, serta cukup besar siswa mengalami miskonsepsi pada konsep sistem saraf tepi manusia.in_ID
dc.language.isoidin_ID
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Surakartain_ID
dc.subjectMiskonsepsiin_ID
dc.subjectCertainty Response Indexin_ID
dc.subjectSistem Sarafin_ID
dc.titleAnalisis Deskriptif Miskonsepsi Siswa SMA pada Materi Sistem Saraf Manusia Menggunakan Teknik Certainty Response Indexin_ID
dc.typeArticlein_ID


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record