Show simple item record

dc.contributor.authorHermawan, Eddy
dc.contributor.authorSatyawardhana, Haries
dc.contributor.authorWitono, Adi
dc.contributor.authorBerliana, Sinta
dc.contributor.authorRustiana, Shailla
dc.date.accessioned2017-03-01T03:50:58Z
dc.date.available2017-03-01T03:50:58Z
dc.date.issued2016-06-04
dc.identifier.citationAldrian E, Susanto D. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions Within Indonesia and Their Relationship to Sea Surface Temperature. International Journal of Climatology. Aldrian E, Susanto D. 2003. Simulations of Indonesian Rainfall with a Hierarchy of Climate Models. Disertasi pada Hamburg, Jerman. Bannu. 2003. Analisis Interaksi Monsun, Enso, dan Dipole Mode serta Kaitannya dengan Variabilitas Curah Hujan dan Angin Permukaan di Benua Maritim Indonesia. Tesis Magister pada GM ITB Bandung. Berliana, Sinta. 1995. The Spectrum Analysis of Meteorological Elements in Indonesia. Nagoya University. Japan. Davidson NE. 1984. Short-term fluctuations in the Australian Monsoon During Winter Monex. Monthly Weather Review 112: 1697–1708. Davidson NE, McBride JL, McAvaney BJ. 1984. Divergent Circulations During The Onset of The 1978–79 Australian Monsoon. Monthly Weather Review 112: 1684–1696. Gusmira, Eva. 2005. Pengaruh Dipole Mode terhadap Angin Zonal dan Curah Hujan di Sumatera Barat. Tugas Akhir pada GM ITB Bandung : tidak diterbitkan. Hermawan, Eddy. 2003. The Characteristics of Indian Ocean Dipole Mode Premiliminary Study of the Monsoon Variability in the Western Part of Indonesian Region. Jurnal Sains Dirgantara,Vol. 1 No.1 Desember 2003. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( LAPAN ). Jakarta. Khrisnamurti, T. N. 1971. Tropical East-West Circulations During The Northern Summer. J. Atmos. Sci. Mukarami, Takio dan Zadrach L. Dupe. 2000. Interannual Variability of Convective Intensity Index Over Indonesia and Its Relationship with Enso. J. Meteorologi dan Geofisika, Vol. 1, No. 4, p. 1-23. Mulyana, Erwin. 2001. Interannual Variation of Rainfall over Indonesia and Its Relation to the Atmospheric Circulation, ENSO and Indian Ocean Dipole Mode. Hokaido University. Japan. Prawirowardoyo, Susilo. 1996. Meteorologi. Penerbit ITB. Bandung. Saji NH, B. N. Goswami, P. N. Vinayachandran and T. Yamagata. 1999. A Dipole Mode in The Tropical Indian Ocean. in Macmillan Magazines ltd, Nature, Vol.401. Saji NH., and T. Yamagata. 2001. The Tropical Indian Ocean Climate System from The Vantage Point of Dipole Mode Events. Submitted to Journal of Climate. Saji NH., and T. Yamagata. 2003. Structure of SST and Surface Wind Variability During Indian Ocean Dipole Events : COADS observations. J. Climate, in press. Soenarmo, Sri Hartati. 2001. Meteorologi Tropis. Dept. GM-ITB. Penerbit ITB. Shyamala, B dan S. Sudevan. 2002. Satellite Studies of Monsoon Process. Regional Meteorological Centre, Colaba.in_ID
dc.identifier.isbn978-602-361-044-0
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/8202
dc.description.abstractDalam rangka mendukung upaya adaptasi dan mitigasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim, maka dipandang perlu untuk dilakukan satu analisis tentang status terkini kondisi indeks iklim global dan implikasinya terhadap perilaku curah hujan di beberapa kawasan Indonesia, khususnya D.I Yogyakarta dan kawasan sekitarnya. Selain data indeks iklim global di atas, digunakan pula data CHIRPS bulanan selama 34 tahun pengamatan (1981-2014). Berbasis metode analisis statistik ARIMA, diketahui bahwa kawasan Yogyakarta akan mencapai puncak musim kemarau pada bulan Agustus. Musim transisi (peralihan dari musim kemarau ke musin penghujan) sekitar September, Oktober dan November (SON). Adanya isu bakal terjadinya La-Nina sejak awal Juni 2016 hingga akhir Desember 2016, diperkirakan tidak akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap penambahan curah hujan. Yang terjadi, justru sebaliknya bakal terjadi adanya musim hujan di saat musim kemarau (dikenal dengan istilah kemarau basah). Atas dasar itulah, maka disimpulkan hujan tahun ini masih dikategorikan normal. Hal ini diindikasikan adanya pengaruh angin Baratan dari Lautan Hindia yang tergolong masih relatif kuat dibandingkan angin Timuran. Disisi lain, ternyata angin Timuran tidak cukup kuat untuk meredam angin Baratan, sehingga menambah keyakinan jika tahun ini bakal terjadi adanya hujan di saat musim kemarau. Untuk mengetahui lebih jauh mekanisme terjadinya hujan disaat musim kemarau dan juga puncak kemarau dan puncak musim hujan di kawasan D.I. Yogyakarta dan kawasan sekitarnya, dibahas lengkap dalam makalah ini.in_ID
dc.language.isoidin_ID
dc.publisherMuhammadiyah University Pressin_ID
dc.subjectPrediksiin_ID
dc.subjectMK 2016in_ID
dc.subjectMH 2016/2017in_ID
dc.titleStatus Terkini Prediksi Curah Hujan MK 2016 dan MH 2016/2017 (Studi Kasus: D.I. Yogyakarta)in_ID
dc.typeArticlein_ID


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record