Show simple item record

dc.contributor.authorKusdiwanggo, Susilo
dc.contributor.authorPamungkas, Sigmawan Tri
dc.date.accessioned2017-12-30T02:45:18Z
dc.date.available2017-12-30T02:45:18Z
dc.date.issued2017-12-13
dc.identifier.citationHamilton, R W. (2003). The Art of Rice: Spirit and Sustenance in Asia. UCLA Fowler Museum of Cultural History Los Angeles Kennedy, Raymond. (1939): The ‘Kulturkreislehre’ Moves into Indonesia in American Anthropologist, New Series, Vol. 41, No. 1 (Jan. – Mar., 1939), pp. 163-169 Kusdiwanggo, Susilo. (2015): Pancer-Pangawinan sebagai Konsep Spasial Masyarakat Adat Budaya Padi Kasepuhan Ciptegalar. Disertasi. Bandung: ITB Lenski, Gerhard and Jean Lenski. (1978): Human Societies an Introduction to Macrosociology, 3rd Edition, International Student Edition, McGraw-Hill Triguna, IBG Yudha. (2006): Prospek Kebudayaan Pertanian dalam Kehidupan Kesejagatan” dalam Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban. Jakarta: Kompas, hal. 622-635 Wessing, Robert. (1977). The Position of the Baduj in the Larger West Javanese Society in Man, New Series, Vol. 12, No. 2 (Aug,1977), pp. 293-303in_ID
dc.identifier.issn1412-9612
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/9516
dc.description.abstractEra agrikultur sering disebut sebagai the dawn of civilization, di mana telah melahirkan banyak sistem peradaban. Salah satu bentuk peradaban tersebut adalah hadirnya permukiman tradisional yang muncul karena kebutuhan agrikulturalnya. Kasepuhan Ciptagelar merupakan salah satu komunitas adat di Banten Kidul dengan permukiman tradisional yang unik dan masih tetap mempertahankan nilai-nilai sistem kepercayaan dan religi budaya padi (rice culture) yang dimilikinya hingga sekarang. Permukiman Kasepuhan Ciptagelar dibangun berdasarkan atas kepercayaannya itu dengan kombinasi lingkungan agrikultur dan lembur. Hampir semua elemen bangun dan ruang permukiman terpelihara dengan baik. Namun terdapat satu elemen agrikultur yang tidak ada, yaitu pangheucakan. Hilangnya satu titik rangkaian budaya padi akan menggerus makna sakral dari sistem kepercayaan dan religi yang diyakini. Jika peristiwa hilangnya pangheucakan tetap dibiarkan, maka sistem budaya padi asli Kasepuhan Ciptagelar, sebagai warisan budaya Sunda dikhawatirkan terancam. Tulisan ini bertujuan menyediakan detail rekonstruksi pangeucakan yang dibangun atas informasi persepsi-kognitif pada kelompok masyarakat yang memiliki wewenang dalam urusan bangunan dan pembangunan di Kasepuhan Ciptagelar secara elaboratif-kolektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitataif deskriptif yang diinduksi dengan teknik observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangheucakan sebagai tempat pengeringan padi memiliki teknologi khas berdasarkan pengetahuan lokal masyarakat (indigenous knowledge). Teknologi tersebut memungkinkan atap dapat dibuka-tutup sedemikian rupa sesuai kebutuhan, sehingga padi menjadi kering. Teknologi tersebut asli hanya dimiliki oleh komunitas Pancer-Pangawainan yang sekarang berkedudukan di Kasepuahan Ciptagelar.in_ID
dc.language.isoidin_ID
dc.publisherBuku Prosiding Simposium Nasional Rekayasa Aplikasi dan Perancangan Industri (RAPI) XVI Tahun 2017in_ID
dc.subjectbudaya padiin_ID
dc.subjectelemen bangun agrikulturin_ID
dc.subjectKasepuhan Ciptagelarin_ID
dc.subjectpangheucakanin_ID
dc.subjectpermukimanin_ID
dc.titlePangheucakan: Elemen Bangun Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar dengan Teknologi Lokal Yang Terancam Pupusin_ID
dc.typeArticlein_ID


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record