Show simple item record

dc.contributor.authorHidayah, Quina Alfa
dc.contributor.authorBimaprawira, Adikusuma Kenangdjatu
dc.contributor.authorYulitamora, Novica Rizky
dc.contributor.authorNugraheni, Imma Redha
dc.contributor.authorDeranadyan, Gumilang
dc.date.accessioned2019-06-18T01:24:09Z
dc.date.available2019-06-18T01:24:09Z
dc.date.issued2019-04
dc.identifier.citation[1] Badan Nasional Penanggulangan Bencana, “Data Bencana Alama di Indonesia,” Badan Nasional Penanggulngan Bencana, 2018. Tersedia : http://bnpb.cloud/dibi/ [Diakses 24 Desember 2018] [2] S. Adi, “Karakterisasi Bencana Banjir Bandang di Indonesia,” Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, vol. 15, pp 42-51, 2013. [3] B. Tjasyono dan S. W. B. Harijono, Meteorologi Indonesia II. Jakarta: BMKG, 2012. [4] Mamenun, H. Pawitan, A. Sophaheluwakan, “Validasi dan Koreksi Data Satelit TRMM pada Tiga Pola Hujan di Indonesia,” Jurnal Meteorologi dan Geofisika: Jakarta, 2014. [5] B. Tjasyono, Klimatologi Umum. Bandung: ITB, 1999. [6] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, “Press Release Kondisi Cuaca Ekstrem dan Iklim Tahun 2010-2011,” 2010. [7] H. Sulistami dan E. Wardoyo, “Penentuan Nilai Ambang Batas Awan Konvektif Pada Produk SWWI Menggunakan Data Radar Cuaca di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya,” Tangerang Selatan: STMKG, 2016. [8] A.A. Larasati, “Identifikasi Karakteristik Awan Cumulonimbus Menggunakan Radar EEC, Radiosonde, dan Lightning Detector di Wilayah Tarakan (Studi Kasus Juli 2016 dan Januari 2017),” Tangerang Selatan: STMKG, 2017. [9] D. Anggoro, “Kajian Waktu Hidup dan Pergerakan Awan Konvektif Berbasis Citra Radar dan Model ECMWF,” Tangerang Selatan: STMKG, 2017. [10] A.P. Cempaka, “Penentuan Inisiasi dan Evolusi Konvektif Berbasis data Pengamatan Udara Atas dan Penginderaan Jarak Jauh di Wilayah Jawa Bagian Barat,” Tangerang Selatan: STMKG, 2017. [11] Monalisa, “Identifikasi Sistem Awan Konvektif Menggunakan Citra Radar Cuaca di Wilayah Bengkulu,” Tangerang Selatan: STMKG, 2018. [12] K. Akib, “Identifikasi Perbedaan Karakteristik Awan Konvektif Penyebab Hujan Lebat & Hujan Es Berbasis Data Penginderaan Jarak Jauh di Wilayah Surabaya dan Sekitarnya,” Tangerang Selatan: STMKG, 2018 [13] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2017. Prakiraan Musim Kemarau 2017. Jakarta: BMKG, 2017. [14] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2017. Prakiraan Musim Hujan 2017/2018. Jakarta: BMKG, 2017. [15] SELEX. Software Manual Rainbow 5 Product & Algorithms. Jerman: Selex Sistem Integrati GmbH, 2013. [16] J.F. Gamache dan R.A. Houze, “Mesoscale Air Motions Associated with a Tropical Squall Line,” Department of Atmospheric Sciences. Seattle: University of Washington, 1981. [17] Punkka, Ari-Juhani., dan Bister, Marja. 2005. Occurrence of Summertime Convective Precipitation and Mesoscale Convective Systems in Finland during 2000–01. Monthly Weather Review. 133: 362-373. [18] Wardoyo, E. 2012. Modul Pelatihan Radar Cuaca. BMKG: Jakarta. [19] D.T.W. Jatmiko, “Analisis Pertumbuhan Awan Cumulonimbus saat Kejadian Hujan Lebat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma dan Adi Sutjipto,” Tangerang Selatan: STMKG, 2018. [20] A.R. Balogun dan Z.D. Adeyewa, “Analysis of Storm Structure over Africa Using the TRMM Precipitation Radar Data,” Atmospheric and Climate Science, vol. 3, pp 538-551, 2013. [21] F.P. Sari, “Teknik Interpretasi dan Analisa Citra Radar untuk Pemberian Informasi yang Lebih Baik,” Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca, vol. 1, pp 83-87, 2016.id_ID
dc.identifier.issn2580-8796
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/10812
dc.description.abstractHujan lebat merupakan salah satu kejadian bencana alam yang banyak terjadi di Indonesia. Hujan lebat terjadi akibat adanya faktor curah hujan yang tinggi yang berasal dari awan-awan konvektif seperti awan cumulonimbus. Wilayah Indonesia memiliki wilayah lautan yang lebih besar daripada daratan. Hal ini menyebabkan potensi pertumbuhan awan-awan konvektif banyak terjadi di Indonesia. Hujan lebat tidak hanya terjadi pada musim hujan, tetapi juga dapat terjadi pada musim kemarau. Untuk mengetahui karakteristik awan pada kejadian tersebut, diperlukan alat inderaja seperti radar cuaca untuk dapat melihat dan mengintepretasikan struktur awan penyebab hujan lebat. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Jambi dengan mengambil sampel tujuh pos hujan yang tersebar di 3 kabupaten pada bulan Juni dan November tahun 2017 serta raw data radar Gematronik. Identifikasi karaktersitik awan dilakukan dengan memanfaatkan produk-produk radar yaitu RIH, CMAX, interactive tool VCUT, VIL, EHT, dan SSA. Dari kedua bulan tersebut menghasilkan sebanyak 9 kasus awan penyebab hujan lebat. Kasus 1-4 terjadi pada bulan Juni dan kasus 5-9 pada bulan November. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum karakteristik awan pada bulan November berbeda dengan bulan Juni.id_ID
dc.language.isootherid_ID
dc.publisherSeminar Nasional GEOTIK 2019id_ID
dc.titleIdentifikasi Karakteristik Awan Penyebab Hujan Lebat pada Musim Kemarau dan Musim Hujan di Jambi (Studi Kasus: Juni dan November 2017)id_ID
dc.typeArticleid_ID


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record