Show simple item record

dc.contributor.authorAkhirudin, Nur Huda
dc.contributor.authorSuharjo
dc.date.accessioned2012-03-12T04:33:45Z
dc.date.available2012-03-12T04:33:45Z
dc.date.issued2007-10
dc.identifier.citationAnonim. 1993. Surakarta dalam Angka Tahun 1993. Surakarta: BPS. Anonim. 1999. Neraca Sumberdaya Alam Kotamadya Surakarta. Surakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kotamadia Surakarta. Anonim. 2003. Statistik Indonesia. Jakarta: BPS. Anonim. 2004. Surakarta dalam Angka Tahun 2004. Surakarta: BPS. Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kodoatie, Robert J dkk. 2002. Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Otonomi Daerah. Yogyakarta: Andi. Seyhan, Ersin. 1977. Fundamentals of Hydrology (Revised Edition). Nedherland: Geografisch Instituut der Rijksuniversiteit te Utrecht, Universiteitscentrum “De Uithof”. Soenarto, Bambang. 1995. Rekayasa Peresapan Buatan untuk Mengatasi Surutnya Peresapan Alami Akibat Konversi Lahan Alami Menjadi Lahan Permukiman-Proceeding Seminar Airtanah Cekungan Bandung. Bandung: Lembaga Penelitian ITB. Suripin. 2002. Pelestarian Sumberdaya Tanah dan Air. Yogyakarta: Andi. Widjaya, Joyce Martha. 1998. Lokalisasi Kesesuaian Lahan untuk Bangunan Peresap dengan Sistem Informasi Geografis-Arch Info (Studi Kasus Citarum Hulu). Buletin Pusair No. 29 Tahun VIII. Bandung: Pusat Litbang Pengairan.en_US
dc.identifier.issn1411-5174
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/410
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi sumbangan kuantitas resapan airtanah tahun 1993-2004. Penelitian ini menggunakan metode survei. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Pengolahan data menggunakan rumus Soenarto (1995) yaitu Iap = cH(âA)/(1000) (untuk penggunaan lahan sawah, tegalan, lapangan, sungai, dan lahan kosong) dan Asdak (1995) yaitu Air Larian = C x Jumlah Curah Hujan (untuk penggunaan lahan industri, jalan aspal, rel kereta api, permukiman, dan makam). Hasil penelitian menunjukkan: (1) potensi air resapan di area terbangun pada masing-masing kecamatan mengalami perubahan dari tahun 1993-2004. Perubahan tersebut yaitu Banjarsari dari 6,574 juta m3/ tahun menjadi 7.114,020 juta m3/tahun, Jebres dari 3,792 juta m3/tahun menjadi 4.328,861 juta m3/tahun, Laweyan dari 2,112 juta m3/tahun menjadi 2.225,429 juta m3/tahun, Pasarkliwon dari 2.287,916 juta m3/tahun menjadi 2.339,805 juta m3/tahun, dan Serengan dari 916,096 juta m3/tahun menjadi 908,855 juta m3/ tahun serta (2) potensi resapan air di area terbuka tahun 1993-2004 pada masingmasing kecamatan juga mengalami perubahan. Perubahan tersebut yaitu Banjarsari dari 188.118,64 m3/tahun berubah menjadi 59.948,62 m3/tahun dan Jebres dari 934.400,02 m3/tahun menjadi 590.142,20 m3/tahun. 3 kecamatan lainnya, yaitu Laweyan, Pasarkliwon, dan Serengan tidak dapat menyumbang resapan air.en_US
dc.subjectpenggunaan lahanen_US
dc.subjectresapan airen_US
dc.titleDAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP SUMBANGAN KUANTITAS RESAPAN AIRTANAH DI KOTA SURAKARTA TAHUN 1993 – 2004en_US
dc.title.alternativeTHE IMPACT OF LANDUSE CHANGING TOWARD THE CONTRIBUTION OF GROUNDWATER ABSORBTION IN SURAKARTA BETWEEN 1993 - 2004en_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record