Show simple item record

dc.contributor.authorBasri, Muhammad Mu’inudinillah
dc.date.accessioned2014-01-30T04:39:59Z
dc.date.available2014-01-30T04:39:59Z
dc.date.issued2008-07
dc.identifier.isbn978-979-17461-8-5
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/4273
dc.descriptionSegala puji syukur hanya untuk Allah, Rabb yang memerintahkan bertawakal kepada-Nya, dan menjanjikan orang yang bertawakal kepada-Nya kecukupan dunia dan akhirat. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada sayyidil mutawakkilin Nabi Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta seluruh para shahabat, tabi’in, dan seluruh umat beliau yang komitmen dengan sunah beliau sampai Hari Kiamat. Setiap manusia pasti menginginkan kesuksesan dan keba-hagiaan. Sebagian mereka ada yang berhasil meraih cita-citanya, namun ada pula yang gagal mencapai apa yang diinginkannya. Yang berhasil ingin mempertahankan kesuksesannya, sedangkan yang gagal atau belum sempat meraihnya, berharap kelak akan mendapatkannya.Banyak faktor yang mempengarui kesuksesan, ada yang dari faktor sarana, konsep teoretik, proses, strategi dan yang tak kalah pentingnya adalah faktor keyakinan dan psikologi. Telah terbukti bahwa image seseorang terhadap diri dan masa depannya sangat mempengarui apa yang akan diperolehnya pada masa mendatang. Maka dari itu, membangun image yang baik terhadap diri dan tugas yang di emban maupun masa depan yang baik, tentu sangat mempengarui kesuksesan hidup seseorang. Di antara unsur bangunan jiwa yang kokoh adalah tawakal kepada Allah SWT, maka pemahaman tentang tawakal secara teoretik maupun aplikatif sangat mempengarui kondisi kehidupan. Tawakal kepada Allah adalah bekal utama untuk meraih keberhasilan dalam segalausaha. Hal ini sudah disepakati oleh seluruh ulama akidah. Tapi, barangkali ada pertanyaan,kenapa banyak orang kelihatannya sukses padahal mereka tidak bertawakal kepada Allah, bahkan tidak beriman kepada-Nya? Sebaliknya, banyak orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah, sementara gagal dalam hidup mereka. Lalu, di manakah letak kesalahan dalam hal ini? Adalah hal yang sangat penting dan dibutuhkan untuk mengupas tentang makna tawakal sebenarnya. Hal ini dimaksudkan agar kaum muslimin mempunyai pemahaman yang benar tentang tawakal. Agar mereka tidak keliru dalam memahaminya, selain supaya kaum muslimin merasa cukup dan bahagia dengan Tuhannya, Allah SWT. Sebab pertolongan Allah hanya akan turun ketika kaum muslimin merasa bahagia tatkala bersama Allah SWT, bertawakal dan berjuang di jalan-Nya. Sebagaimana firman-Nya, “Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya, sungguh Allah akan menyampaikan perkara-Nya, sungguh Allah telah menjadikan segala sesuatu menurut ketentuannya” (QS. at-Thalaq: 3).Kebahagian adalah dambaan setiap manusia, dan tawakal menduduki salah satu pokok yang membentuk kebahagiaan. Kebahagiaan dimunculkan oleh ketenangan dan keyakinan hati terhadap Dzat yang membimbing dan mendukungnya. Kebahagiaan didukung oleh keyakinan bahwa seluruh amal dan usaha yang dilakukan apapun hasilnya asal dilakukan dengan cara dan proses yang benar-tidak ada yang namanya sia-sia, dan inilah yang dimunculkan oleh tawakal dalam hati manusia. Tawakal seperti iman, takwa dan a’malul qulub (amalan hati) lainnya, memerlukan adanya ilmu, dan kiat-kiat untuk menggapainya, maka perlu ada kajian yang lengkap tentang tawakal, baik dari sudut pandang teori maupun cara mengimplementasikannya. Islam sebagai din yang memuat syariat (hukum) dan manhaj tidak hanya sekadar memerintahkan t awakal, melainkan juga memberi kan petunjuk unt uk memahami berbagai hal sehingga tawakal bisa dipahami dan diamalkan dalam berbagai ranah kehidupan. Kesuksesan tanpa dilandasi tawakal kepada Allah mer upakan kesuksesan semu. Karena kesuksesan tersebut hanya terwujud di sarana,sementara di tujuan ia tidak mendapatkannya. Berhasil di dunia namun gagal di akhirat. Orang yang bertawakal kepada Allah pasti sukses, adapun yang melihat dirinya sudah bertawakal tapi tidak sukses, maka hal itu dikarenakan salah dalam memahami makna tawakal. Merasa bertawakal padahal belum, atau salah dalam memahami konsep keberhasilan. Bagaimana rincian jawabannya, mari kita ikuti kajian dalam buku ini, insya Al l ah para pembaca akan mendapatkan jawabannya. Kajian tawakal ini berangkat dari tafsir tematik, melihat Al-Qur’an dalam ajaran yang dipaparkan, surat atau ayat yang satu tidak terpisah dari yang lainnya, melainkan menjadi satu keutuhan. Al-Qur’an al-Karim memberikan bimbingan konsep untuk membentuk kepribadian individu dan sosial berdasarkan nilai-nilai keilahian, maka kajian ini didukung pula dengan berbagai pengalaman para pendahulu kita saat mengejawantahkan nilai-nilai tawakal dalam kehidupan mereka.en_US
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Surakarta - Indiva Pustakaen_US
dc.titleIndahnya Tawakalen_US
dc.typeBooken_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record