Show simple item record

dc.contributor.authorGunawan
dc.contributor.authorAlifah, Suryani
dc.contributor.authorMustafa
dc.date.accessioned2015-03-28T04:57:23Z
dc.date.available2015-03-28T04:57:23Z
dc.date.issued2014-12
dc.identifier.citationArif Wibawa, Subhan Afifi dan Agung Prabowo, “Model Bisnis Penyiaran Televisi Digital di Indonesia”, Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 8, Nomor 2, Mei - Agustus 2010, halaman 117 – 130 Byungjun Bae, Joungil Yun, “Development of T-DMB Receiver Linking with CDMA Network for Interactive Data Broadcasting Services”, IEEE Transactions on Consumer Electronics, Vol. 53, No. 3, AUGUST 2007 Claus Sattler, “Mobile Broadcast Business Models”, BMCO Forum, September 2008. G. Lee, S. Cho, K. Yang ,Y. K. Hahm, and S. Lee. Development Of Terrestrial DMB Transmission System Based On Eureka-147 DAB System.IEEE Trans. on Cons. Elect. , Vol. 51(1), pp. 63-68, February 2005. Kamaluddin, L M, Gunawan, Suryani Alifah, 2011, “New Business Model of T-DMB enabled Education in Universitas Islam Sultan Agung Semarang”, The 1stInternational Conference on Information Systems for business competitiveness (ICISBC) , UNDIP, 2011. Riza Azmi, “Analisis Model Bisnis Penyelenggaraan Televisi Digital Free-to-Air di Indonesia”, Buletin Pos dan Telekomunikasi, Vol.11 No.4 Desember 2013 : 265-280 Rustini S Kayatmo, “Arah Pengembangan Teknologi Penyiaran Digital”, Jurnal Elektronika No 1-2 Vol IV, Juli 2004, ISSN 1411-B289. Sammo Cho, “System and Services of Terrestrial Digital Multimedia Broadcasting (T-DMB)”, IEEE Transactions On Broadcasting, VOL. 53, NO. 1, March 2007 Unissula,2000.T-DMB System Trial Report, T-DMB for Education, Semarang : Unissulain_ID
dc.identifier.issn1412-9612
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/5479
dc.description.abstractKonvensi Jenewa pada tahun 2006 atau GE-06mengenai penyiaran televisi,memberikan tantangan bagi para pengambil kebijakan di berbagai negarabahwa tahun 2015 mampu menyelesaikan migrasi teknologi penyiaran analog ke digital atau Analogue Switch Off (ASO). Tak terkecuali Indonesia, telah merespon salah satunya dengan menetapkan standar teknologi peyiaran TV Digital terrestrial tetap (TVD-TT)dan bisnis modelnya.Sementara itu perkembangan teknologi penyiaran yang pesat perlu disiapkan langkah-langkah bagi penerapan dan pengembangan penyiaran digital bergerak (mobile). Pengguna perangkat telekomunikasi semacam handphone, smartphone mengalami perkembangan yang cukup signifikan,mengindikasikan kebutuhan layanan mobile mulai diterima masyarakat secara luas.Prospek penyiaran digital bergerak menunjukkan arah konvergensi dengan bisnis telekomunikasi lainnya. Sementara itu penyiaran televise digital terestrial bergerak(TVD-TB) belum ditentukan standarnya oleh pemerintah, akan tetapi peluang untuk itu dimungkinkan menurut peraturan menteriNo.21/PER/M.Kominfo/4/2009tentang standard radio digital DAB dan keluarganya dalam hal ini T-DMB. Penerapan TVD-TB ini akan menyebabkan para broadcaster termasuk institusi publik, perlu untuk melihat cara-cara baru mengatasi segmen pasar layanan mobile. Dalam hal ini industri penyiaran bergerak, minat yang tinggi bisa terjadi pada pengembangan pasar seperti, perangkat jaringan, perangkat penerima, penyedia konten, sampai penyedia jaringan. Hal ini berakibat perlunya penyesuaian platform dan caradalam mengembangkan dan mengimplementasikan layanan penyiaran bergerak. Melalui pendekatan sosio teknikal dapat untuk melihat hubungan antara tiga subsistem sebuah bisnis baru penyiaran digital bergerak yaitu subsistem teknologi, sosial dan regulasi. Berdasarkan hasil surveidi kota Semarang subsistem sosial dapat didiskripsikan melalui ketertarikan responden terhadap layanan televisi digital terestrial bergerak mencapai 55%,diikuti persepsi mengenai budaya hidup mobile yang akan membutuhkan layanan TV Digital terrestrial bergerak mencapai nilai 71% . Pendapat responden mengenai layanan konten TV interaktif, akan membuat layanan TV semakin menarik untuk di tonton sebanyak 66% . Adapun optimisme akantumbuhnya usaha-usaha baru bidang penyiaran masa yang akan dengan potensi bisnis yang besar dipercayai oleh 70% responden.Dengan dielaborasikan pendapat para pakar mengenai teknologi dan regulasi sebagai lingkungan bisnis industry ini, maka rekayasa model bisnis yang sifatnya generik dibangun berdasarkan kaidah fungsi dalam setiap komponen system penyiaran digital.Model bisnis dibuat dengan mengedepankan peran Lembaga Penyedia Multipleksing (LPM) dan Lembaga Penyedia Akses (LPA) yang beroperasi secara simultan secara parallel dan secara serial. Peran dua lembaga ini ditempatkan sebagai ’penggerak’ dimana hubungan antara layanan dan aliran biaya yang menghubungkan relasi antar Lembaga Penyedia Multipleksing (LPM), Lembaga Penyelenggara Program Siaran (LPPS), Lembaga Penyedia Akses (LPA) dan pada Penyedia Konten (PK) dapat terjadi. Pemodelan ini diharapkan menjadi referensi pengembangan model bisnis penyiaran digital bergerak yang sesuai dengan sumber daya di Indonesia.in_ID
dc.language.isoidin_ID
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Surakartain_ID
dc.subjectModel Bisnisin_ID
dc.subjectTVD-Terestrial Bergerakin_ID
dc.subjectT-DMBin_ID
dc.subjectSocio Technicalin_ID
dc.titlePerancangan Model Bisnis dengan Pendekatan Socio Technical Pada Industri TV Digital Bergerak di Indonesiain_ID
dc.typeArticlein_ID


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record