Show simple item record

dc.contributor.authorSabardila, Atiqa
dc.contributor.authorPrihartanti, Nanik
dc.date.accessioned2012-04-07T08:45:51Z
dc.date.available2012-04-07T08:45:51Z
dc.date.issued2011
dc.identifier.citationAdzkia. “Laut”. Adzkia, Oktober 2011. Adzkia. 2011. “Adzkia, Oktober 2011. Bobo. “Impianku”. Bobo, 9 September 2011 Bobo. 2011. “Impiaku”. Bobo, 20 September 2011. Bobo. “Hantu.” Bobo, 29 september 2011 Bobo. 2011. “Mejaku yang Merah.” Bobo, Dinar Pratisti, Wiwein. 2011. “Peran Kehidupan Emosional Ibu dalam Perkembangan Regulasi Anak: Studi Meta Analisis. Jurnal Penelitian Humaniora. Edisi Pebruari 2011. Dwi Astuti, Retno. 2005. ”Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Kemandirian Siswa dalam Belajar pada Siswa Kelas XI SMA Negeri Sumpiuh, Kabupaten Banyumas Tahun Ajaran 2005/2006. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Irmawati. 2004. ”Motivasi Berprestasi dan Pola Pengasuhan pada Suku Bangsa Batak Toba di Desa Parpareran II Tapanuli Utara. Makalah yang disampaikan pada Temu Ilmiah Nasional dan Kongres IX Himpunan Psikologi Indonesia. Surabaya, 15-17 Januari 2004. Joglosemar. Bunga Matahari. Joglosemar. 13 maret 2011 Joglosemar. 2011. “Sawah di Desaku”. Joglosemar. 8 Mei 2011. Joglosemar. “Guru.”. Joglosemar, 26 juni 2011 Khalid al-’Am, Najib. 1990. Mendidik Cara Nabi Saw. Bandung: Pustaka Hidayah. Kompas. 2011. “Eskul Tepat Sesuai Minat.” Kompas, 15 Agustus 2011. Kompas. 2011. “Menulis Itu Membebaskan”. Kompas, 15 Agustus 2011.en_US
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/776
dc.descriptionPenelitian Fundamentalen_US
dc.description.abstractPenelitian ini direncanakan berlangsung dua tahun. Tujuan tahun 1 (2011) adalah pemetaan tentang isi pesan pada karangan otobiografi yang ditulis oleh siswa bermasalah di SMP Muhammadiyah 5 Surakarta Surakarta. Adapun tujuan tahun II (2012) adalah penerapan pola asuh (: sekolah dan atau orang tua) berdasarkan spesifikasi karakter anak yang bermasalah. Berikut hasil yang didapat tahun I (2011). Praktik menulis otobiografi yang dilakukan anak bermasalah memerlukan waktu 2 bulan. Karakter anak berlainan dalam penyelesaian tulisan. Ada yang secara rutin menulis; ada yang melakukannya secara mendadak, yakni menjelang akhir penugasan. Judul yang mereka hasilkan berkisar 1 - 12 judul. Ada 25 kata kunci yang disimpulkan dari pilihan judul, yakni TK, SD, SMP, belajar bersepeda, nonton bola, di BP, bermain layang-layang, berlibur, dilempar sepatu, berkemah, umur tertentu, masa kecil, masa lalu, mengambil mangga, membawa HP, rekreasi di desa, memancing, jatuh dari sepeda, mudik, mencari ikan, jalan-jalan, pengalamanku, asal-usul, dan disusui ibu. Otobiografi mereka berkaitan dengan aktivitas keseharian, yakni dalam asuhan orang tua, permainan, pertemanan, atau dalam kegiatan belajar di kelas dan aktivitas lain di sekitar sekolah. Otobiografi memberikan informasi tentang kejujuran , potensi, hobi, bakat anak, kebiasaan, keberanian, kemandirian, kesukaan, kerajinan, ketaatan, pengalaman, kenakalan, perubahan perilaku, cita-cita, dan emosi (: positif dan negatif). Siswa SMP cenderung menceritakan kehidupan di seputar sekolah dan keluarga. Pertemanan, perselisihan, kesalahpahaman, keteledoran, kekurangdisiplinan, dan kekurangpatuhan menyebabkan konflik dengan orang-orang yang mereka kenal. Meski pernah muncul benturan, perilaku mereka masih dapat dikendalikan guru. Emosi positif dan negatif hampir seimbang – meski lebih banyak emosi negatifnya -- diekspresikan oleh siswa dalam otobiografi mereka. Hal itu berkaitan dengan respon terhadap orang dekat di lingkungan sekolah dan keluarga, seperti kecewa terhadap orang yang dipercaya atau terhadap sikap orang tua yang lebih memilih pekerjaan dibandingkan dengan anaknya, sangat sedih ditinggal orang yang dipercaya, marah dan menangis karena harus menulis surat pengganti hukuman karena melanggar perintah orang tua, atau sangat senang terhadap orang yang setia menemani, atau senang bertemu orang tua di kampung atau bertemu teman lama. Berdasarkan otobiografi ke-27 siswa digambarkan bahwa siswa bermasalah dapat ditandai dengan adanya hambatan untuk mengenali dan mengungkapkan emosi. Bahkan 8 dari 27 siswa (29, 62 %) sama sekali tidak menunjukkan ungkapan emosi dalam tulisannya. Padahal bila dicermati, tulisan mereka terdapat pengalaman/peristiwa yang memungkinkan menunjukkan suasana emosi. Tulisan mereka dipenuhi rentetan kegiatan yang mengalir, namun pada umumnya dijumpai loncatan berpikir dari satu ingatan ke ingatan lain. Dapat dikatakan uraian tulisan yang tanpa disertai ungkapan perasaan. Ada 10 siswa (37,03 %) yang sama sekali tidak mengenali adanya emosi positif, dan 16 siswa (59,25 %) sama sekali tidak mengenali adanya emosi negatif. Secara keseluruhan jumlah jenis emosi positif yang muncul jauh lebih sedikit dari emosi negatif. Jenis emosi positif (7 jenis), yaitu: bahagia, senang, bangga, gembira, cinta, kagum dan suka. Jenis emosi negatif (16 jenis) yaitu: takut, malu, putus asa, malas, kesal, sedih, marah, sakit hati, jengkel, terkejut, tegang, cemas, gugup, pedih, dendam, dan benci. Fakta ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup siswa bermasalah lebih banyak diwarnai peristiwa tidak menyenangkan yang memunculkan emosi negatif. Kemungkinan besar siswa bermasalah kurang mendapatkan perhatian dan pengalaman-pengalaman positif yang mendukung perkembangan emosi yang sehat. Oleh karena itu, dari hasil penelitian tahun I (2011) perlu dilanjutkan dengan aplikasi/penerapan pola asuh (: sekolah dan atau orang tua) berdasarkan spesifikasi karakter anak yang bermasalah. Diharapkan proses belajar-mengajar menjadi kondusif karena problematika siswa bermasalah dapat diminimalisasi. Temuan tahun I dipresentasikan di depan wali murid, wali kelas, guru BP, kepala sekolah, dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Selanjutnya, mereka berdiskusi tentang pola asuh dan aplikasinya untuk siswa bermasalah dengan narasumber dari peneliti. Diskusi berakhir dengan dihasilkan rangkuman yang dibacakan di depan peserta. Hasil rangkuman ini menjadi data untuk penyusunan laporan penelitian tahun II yang dilengkapi kajian teoretis dan hasil penelitian yang relevan. Ada hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian berkaitan dengan penanganan anak bermasalah di sekolah tersebut untuk tahun II berdasarkan analisis data. Pertama, anak bermasalah diusulkan menjadi materi rapat dalam Komite Sekolah, khususnya berkaitan dengan perilaku malak kepada rekan mereka. Ditawarkan kepada wali siswa yang mampu untuk turut menjadi anak asuh. Bila memberatkan, biaya uang saku mereka dapat ditanggung secara iuran. Kedua, ditawarkan kepada pihak sekolah untuk meneruskan kegiatan home visit, khususnya ke rumah anak-anak yang sering malak atau keluarga mereka yang broken home agar perilaku patologis tersebut dapat diminimalisasi. Ketiga, ditawarkan kepada pihak sekolah untuk mengadakan pelatihan atau workshop kepada guru untuk peningkatan kualitas proses belajar-mengajar agar tidak ada lagi siswa yang keluar saat pembelajaran berlangsung. Materi pelatihan berupa strategi dan metode pembelajaran yang membuat siswa senang, nyaman di kelas, dan produktif. Kata Kunci: otobiografi, emosi positif, dan emosi negatif.en_US
dc.description.sponsorshipDiktien_US
dc.subjectautobiographyen_US
dc.subjectpositive emosionen_US
dc.subjectnegative emosionen_US
dc.titlePENULISAN OTOBIOGRAFI SEBAGAI ALAT UNGKAP MASALAH PADA SISWA DI SEKOLAHen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record