Show simple item record

dc.contributor.authorLelatobur, Lovely Ezverenzha
dc.contributor.authorDewi, Lusiawati
dc.date.accessioned2016-10-27T01:47:33Z
dc.date.available2016-10-27T01:47:33Z
dc.date.issued2016-05-21
dc.identifier.citationAOAC International. 2005. Official Methods of Analysis of the Association of Official Analytical Chemist (AOAC). Washington Dc: Gaithersburg Astuti, M. Meliala, A. Dalais, F.S. Wahlqvist, M. L. 2000. Tempe, a nutritious and healthy food from Indonesia. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition 9 (4), 322-325 Cahyadi, W. 2006. Kedelai Khasiat dan Teknologi. Jakarta: PT Bumi Aksara Delima, D. 2013. Pengaruh subtitusi tepung biji ketapang (Terminalia cattapa L) terhada kualitas cookies. Food Science and Culinary Education 2 (2), 9-15. Dewi, L. Lestario, L.N. Meindrawan, B. 2012. Akitivitas antioksidan dan kadar fenolik total tempe satu kali perebusan dari kedelai (Glycine max L Merr) Lokal var. Grobogan dan impor. [Skripsi]. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Dewi, L. Lestario, L.N. Meindrawan, B. 2012. Aktivitas antioksidan dan kadar tempe satu kali perebusan dari kedelai (Glycine max L. Merr) var. Grobogan dan impor. [Skripsi]. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Dewi, L. Purnama, F.A. Hastuti, S.P. 2012. Kadar air, abu, protein dan karbohidrat pada tahapan pembuatan tempe. [Skripsi]. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Dwinaningsih, E.A. 2010. Karakteristik kima dan sensori tempe dengan variasi bahan baku kedelai/beras dan penambahan angkak serta variasi lama fermentasi. [Skripsi]. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Firlieyanti, A.S. Purnomo, E.H. Kusnandar, F. Maknun, L. 2013. Pengaruh jenis inoculum Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae terhadap sifat fisiko-kimia tempe kacang merah. Dalam: Prosiding Seminar HasilHasil PPM IPB. Bogor, Indonesia, 2007. 197-207 Gilman, E.F. Watson, D.G. 1994. Terminalia cattapa: tropical-almond 1 . 1-3. Diakses dari http://edis.ifas.ufl.edu/pdffiles/st/st62600.pdf. [24 Jan 2016]. Hidayat, N. 2008. Fermentasi tempe. Yogyakarta: Penerbit Andi Kamal, M.F. 2011. Kecap ketapang bergizi tinggi sebagai pemanfaatan dari buah yang terbuang. PKM Kewirausahaan. Surabaya: Universitas Airlangga Mahardhany, P. 2010. Kajian sifat kimia dan sifat sensoris pada tempe koro babi (Vicia faba) dengan variasi pengecilan ukuran dan lama fermentasi [Skripsi]. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Matos, L. Nzikou, J.M. Kimbonguila, A. Ndangui, C.B. Pambou-Tobi, N.P.G. Abena, A.A. Silou, Th. Scher, J. Desobry. 2009. Composition and nutritional properties of seeds and oil from Terminalia catappa L. Advance Journal of Food Science ang Technology 1(1),72-77 Muhilal, Purwantyastuti, Riyadi, H. Rimbawan, Utari, D.M. 2010. Pengaruh pengolahan kedelai menjadi tempe dan pemasakan tempe terhadap kadar isofalvon. Jurnal Panel Gizi Makanan (PGM) 33(2), 148-153 Mutu Kedelai Nasional Lebih Baik Dari Kedelai Impor. 2011. Diakses dari http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/sp1202081.pdf. [22 Jan 2016] Nurhidajah, Anwar, S. Nurrahman. Daya terima dan kualitas protein in vitro tempe kedelai hitam (Glycine soja) yang diolah pada suhu tinggi. [Tesis]. Semarang: Universitas Diponegoro Pradekatiwi, Meivitasari, Husnah, L.N. 2010. Tempe biji ketapang. [Artikel]. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2014. Buletin Konsumsi Pangan. 5(2),13-14. Dipublikasikan Juni 2014. [24 Januari 2016] Rokhmah, L. 2008. Kajian kadar asam fitat dan kadar protein selama pembuatan tempe kara bengkak (Mucuna pruriens) dengan variasi pengecilan ukuran dan lama fermentasi. [Skripsi]. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Santosa, H.B. 1993. Pembuatan tempe dan tahu kedelai. Yogyakarta: Kanisius Septiana, D. 2010. Pengaruh pengukusan terhadap kualitas tempe di kecamatan Sidorejo ditinjau dari kadar air, protein, karbohidrat dan abu. [Skripsi]. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Setiadi. 2002. Kepekaan Terhadap Pengolahan Pangan. Bandung: Universitas Padjadjaran Setyaningsih, D. Apriyantono, A. Sari, M.P. 2008. Analisis Sensori untuk Industri Pangan dan Agro. Bogor: IPB Press SNI. 2009. Syarat mutu tempe. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional Indonesia SNI. 2015. Syarat Mutu Kedelai. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta Sorenson, W.G. Hesseltine, C.W. 1966. Carbon amd nitrogen utilization by Rhizopus oligosporus. Mycological Society of America 58(5):681-689 Sudarmadji, S. Haryono, B. Suhandi. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty Sundari, D. Almasyhuri, Lamid, A. 2015. Pengaruh proses pemasakan terhadap komposisi zat gizi bahan pangan sumber protein. Media Litbangkes 25(4):235-242 Waldi, R.D. Chaniago, Z.A. Gumelar, A.D. Jayani, F.M. Oktaviana, N.P. 2014. “The Cattapa” :transformasi tempe dengan biji ketapang (Terminalia cattapa) sebagai bahan dasar subtitus kedelai penurunan kolesterol darah. [PKM-Kewirausahaan]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Widjanarko, S.B. Zubaidah, E. Kusuma, A.M. 2003. Studi kualitas fisik-kimiawi dan organoleptik sosis ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) akibat pengaruh perebusan, pengukusan dan kombinasinya dengan pengasapan. Jurnal Teknologi Pertanian 4 (3) :193-202 Widyanti, A.D. 2011. Pengaruh jenis kedelai (Glycine max L Merr) Grobogan dan impor terhadap nilai gizi tempe. [Skripsi]. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Winarno, F.G. 2002. Kimia pangan dan gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.in_ID
dc.identifier.issn2527-533X
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/7892
dc.description.abstractTempe merupakan produk pangan fermentasi yang juga merupakan makanan tradisional Indonesia dan telah banyak dimodifikasi dengan menggunakan bahan lain selain kedelai.Sudah terdapat setidaknya 6 jenis tempe dengan bahan yang selain kedelai dan salah satunya ada biji ketapang. Biji ketapang mengandung kadar protein 25,3%, lemak 16.35%, serat 11.75% dan karbohidrat 5.8%. Biji ketapang sudah mulai digunakan dalam pembuatan produk fermentasi seperti kecap, subtitusi tepung dan juga tempe, hanya saja untuk tempe masih belum diketahui lebih dalam kadar gizinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan cara pengolahan tempe khususnya pada perebusan biji ketapang dalam menghasilkan kualitas tempe biji ketapang yang baik dilihat dari uji proksimat dan organoleptik. Demi tercapai tujuan tersebut, biji ketapang direbus dengan menggunakan interval waktu perebusan 30 dan 45 menit yang diberi perebusan dua kali dan 60 menit dengan perebusan sekali. Setelah itu diberi ragi dan difermentasi selama 48 jam kemudian dilakukan uji proksimat dan organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik sederhana (deskriptif). Hasil penelitian menunjukkan kadar air yang optimal untuk fermentasi tempe biji ketapang adalah pada perebusan 60 menit dengan persentase kadar air 62.50% untuk kadar abu optimal fermentasi tempe biji ketapang pada perebusan 45 menit yaitu 2.17% untuk kadar lemak dan protein optimal perebusan untuk fermentasi tempe bji ketapang adalah 60 menit dengan persentase 7.16% & 18.24% sedangkan untuk organoleptik skala nilai yang didapat semua perlakuan adalah 3 (netral). Disimpulkan bahwa nilai gizi berdasarkan uji proksimat dan organoleptik menunjukkan bahwa perebusan 45 menit dan 60 menit lebih optimal membantu dalam proses fermentasi biji ketapang menjadi tempe.in_ID
dc.language.isoidin_ID
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Surakartain_ID
dc.subjectcara mengolah tempein_ID
dc.subjectbiji ketapangin_ID
dc.subjectuji proksimatin_ID
dc.subjectuji organoleptikin_ID
dc.titleOptimasi Perebusan Biji Ketapang (Terminalia cattapa) Dalam Fermentasi Tempein_ID
dc.typeArticlein_ID


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record