Analisis Kesalahan Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Berdasarkan Gaya Belajar
Abstract
alah satu kemampuan matematika yang penting dan harus dimiliki oleh mahasiswa
pendidikan matematika adalah kemampuan menyelesaikan masalah matematika. Selama
perkuliahan mahasiswa telah menerapkan kemampuan menyelesaikan masalah matematika
dengan menggunakan metode Polya yaitu dengan prosedur memahami masalah, merencanakan
cara penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali. Akan tetapi pada praktiknya,
mahasiswa masih sering mengalami kesalahan dalam proses menyelesaikan masalah matematika.
Menurut Newman ada lima tahapan ketika seseorang menyelesaikan masalah matematika. Dan
memungkinkan terjadi kesalahan pada tiap tahapannya yaitu (1) kesalahan dalam tahap
membaca; (2) kesalahan dalam tahap memahami; (3) kesalahan dalam tahap transformasi; (4)
kesalahan dalam tahap keterampilan proses; (5) kesalahan dalam tahap menuliskan jawaban.
Kesalahan tersebut dapat diketahui melalui proses mahasiswa menyelesaikan masalah
matematika. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membimbing mahasiswa mengatasi
kesalahan yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah matematika. Salah satunya yaitu
memberikan bimbingan kepada mahasiswa sesuai dengan gaya belajarnya.Penelitian ini
mendeskripsikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Matematika
Universitas Muhammadiyah Jember ketika menyelesaikan masalah matematika berdasarkan gaya
belajarnya. Sehingga penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil pada penelitian ini
adalah pada siswa bergaya belajar visual, kesalahan yang paling dominan dilakukan adalah
kesalahan pada tahap keterampilan proses yaitu sebesar 93%. Pada siswa bergaya belajar
auditorial, kesalahan yang paling dominan dilakukan adalah kesalahan pada tahap membaca
yaitu sebesar 94%. Pada siswa bergaya belajar kinestetik, kesalahan yang paling dominan
dilakukan adalah kesalahan pada tahap keterampilan proses yaitu sebesar 77%. Solusi yang
dilakukan dosen untuk mengatasi masalah pada mahasiswa bergaya belajar visual adalah
meminta mahasiswa untuk mengecek kembali hasil pekerjaan sebelum dikumpulkan dan dosen
harus memberikan bimbingan kepada kelompok mahasiswa bergaya belajar visual sesuai dengan
kecenderungannya yaitu dengan banyak memberikan tampilan secara visual dalam menjelaskan
seperti menambahkan diagram alur dan warna pada pasangan persamaan yang akan dieliminasi
atau disubstitusi. Pada mahasiswa bergaya belajar auditorial, solusi yang dilakukan oleh dosen
adalah dengan menanamkan pemahaman pentingnya membaca soal cerita dengan seksama dan
mengetahui kata atau kalimat yang dapat dijadikan informasi dalam menyelesaikan masalah
matematika. Sedangkan pada mahasiswa bergaya belajar kinestetik, solusi yang dilakukan dosen
adalah memberikan penjelasan kembali kepada kelompok mahasiswa bergaya belajar kinestetik
tentang mengubah soal cerita menjadi persamaan sekaligus proses perhitungannya dengan
menggunakan metode eliminasi dan substitusi dengan melibatkan mahasiswa secara fisik yaitu
meminta mahasiswa untuk menuliskannya secara langsung di papan tulis.