Show simple item record

dc.contributor.authorNdiung, Sabina
dc.date.accessioned2017-07-19T02:59:06Z
dc.date.available2017-07-19T02:59:06Z
dc.date.issued2017-04-04
dc.identifier.citationAlwasilah, A. C. dkk. 2009. Etnopedagogi: Landasan Praktik Pendidikandan Pendidikan Guru. Bandung: Kiblat Buku Utama. Borgias F. M. 2012. Filsafat Sosial dan Filsafat Pendidikan Manggarai, dalam Martin C h e n & Charles Suwendi (Eds.,) Iman, Budaya dan Pergumulan Sosial: Refleksi Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai.Obor: Jakarta. Burhan Bungin, B. 2011. Penelitian kualitatif: komunikasi, ekonomi, kebijakan publik, d a n Ilmu Sosial Lainnya, edisi kedua. Penerbit Kencana. Emzir. 2014. Analisis Data: Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers Greetz, C. 1973. The Interpretation of Culture. New York: Basic Books Janggur, P. 2010. Butir-butir Adat Manggarai. Ruteng: Yayasan Siri Bongkok. Lasmawan, W. I. 2016. Perspektif Global dan Problematika Pendidikan Dasar. Singaraja: Mediakom Indonesia. Kartawinata, Ade. M. 2011. Meretas Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi dan T a n t a n g a n Pelestarian dalam Nasruddin (2011). Kearifan Lokal di Tengah modernisasi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Pengembangan Sumber D a y a Kebudayaan dan Pariwisata. Maribeth, E. 1999. The Manggaraians: A Guide to Traditional Lifestyles, Singapore: Times Edition Moleong, Lexy J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi III). Yogyakarta: Rakesarasin. Mukese, D. J. 2012. Makna Hidup Orang Manggarai, dalam Martin Chen dan Charles Suwendi (eds.,) Iman, Budaya dan Pergumulan Sosial: Refleksi Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai. Jakarta: Obor. Pandor, P. 2015 Menyambut dan Memuliakan Sesama Dalam Ritus Tiba Meka Orang Manggarai, dalam Armada Riyanto, dkk.Kearifan Lokal Pancasila: Butir-butir Filsafat Keindonesiaan. Yogjakarta: Kanisius Riyanto, A. Dkk. 2015. Kearifan Lokal Pancasila: Butir-butir Filsafat Keindonesiaan . Yogjakarta: Kanisius Sarbaini. 2015. Rekonstruksi Nilai-Nilai Baiman, Bauntung, Batuah. Milik Urang Banjar Perspektif Etnopedagogi: Paper in International seminar on Etnopedagogy, November 14, 2015. Faculty of Teacher Training and Eduation Lambung Mangkurat University. Spradley, James P. 1980. Participated Observation. New York: Holt, Rinehart and Winston. Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Terjemahan Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana. Strauss, Anselm dan Juliet Corbin. 1990. Basics of Qualitative Research. London: Sage Publications. Surya, P. 2011. Kepemimpinan Etnopedagogi di Indonesia. Majalahilmiahdinamika UNY edisi Mei 2011.Yogyakarta: UniversitasNegeri Yogyakarta. Verheijen, J. A. 1967. Kamus Manggarai –Indonesia, S-Gravenhage-Martinus Nijhoff, Belanda. Wagiran. 2011. Pengembangan model pendidikan kearifan lokal dalam mendukung visi pembangunan DIY 2020. Dimuat dalam Jurnal Penelitian dan Pengembangan, Volume III, Nomor 3, Tahun 2011. ISSN 2085-9678. Hlm. 85-100.in_ID
dc.identifier.issn2549-5607
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/8935
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan: 1) mengidentifikasi tata cara tiba meka orang Manggaraidan 2) mengungkap nilai-nilai etnopedagogi yang terkandung di dalam ritus tiba meka. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Penelitian ini dilaksanakan di kabupaten Manggarai, Flores. Teknik pengumpulan datanya menggunakan wawancara, observasi, dan catatan lapangan. Penentuan informan menggunakan teknik purposif. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan metode analisis kualitatif yang mencakup tiga kompenen utama yaitu 1) Reduksi Data; 2) Model Data (Data Display), dan 3) penarikan/verifikasi kesimpulan yang membentuk suatu proses siklus interaktif.Berdasarkan hasil penelitian , diperoleh data bahwa terdapat enem tahap-tahap dalam ritus tiba meka orang Manggarai yang terdiri dari 1) Reis tiba di’a (Penyambutan dengan baik); 2) Raés agu raos cama laing (Berbagi sukacita dan kebersamaan); 3) Pandeng Cepa (Kebersamaan jasmani dan Rohani ); 4) Inung Wae kolang (Minum bersama sebagai tanda keakraban); 5) Tegi Reweng (Meminta peneguhan/motivasi); dan 6) Wali Di’a (Mohon keselamatan untuk tamu). Dari tata cara penyambutan (tiba) tamu (meka) tersebut ditemukan bahwa ternyata ritus tiba meka memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang mencakup nilai filosofis, antropologis, sosiologis, dan psikologis yang menarik untuk dielaborasi lebih lanjut.in_ID
dc.language.isoidin_ID
dc.publisherMuhammadiyah University Pressin_ID
dc.subjectetnopedagogiin_ID
dc.subjectkearifanlokalin_ID
dc.subjecttiba mekain_ID
dc.titleRitus Tiba Meka Orang Manggarai dalam Kajian Etnopedagogiin_ID
dc.typeArticlein_ID


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record