Show simple item record

dc.contributor.authorSucipto
dc.contributor.authorTugino
dc.date.accessioned2012-06-25T04:08:37Z
dc.date.available2012-06-25T04:08:37Z
dc.date.issued2010-05
dc.identifier.citationAbdurrosyid, Jaji. (2005). “Pengendalian Gerusan dengan Pelat di Sekitar Abutmen Jembatan pada Kondisi Ada Angkutan Sedimen (Live Bed Scour).” Jurnal Teknik Gelagar. Volume 16 Nomer 01. April 2005, UMS. Surakarta. Abdurrosyid, Jaji (2007). ”Gerusan di Sekitar Abutmen dan Pengendaliannya Pada Kondisi Ada Angkutan Sedimen untuk Saluran Berbentuk Majemuk.” Jurnal Dinamika Teknik Sipil. Vol. 7 No. 1, Januari 2007, Surakarta. Breuser. H.N.C. and Raudkivi. A.J. (1991). Scouring. IAHR Hyd. Structure Design Manual. Rotterdam : AA Balkema. Dinas PSDA Prov. Jateng. (1996). Hidrolika Terapan. Semarang. Hanwar, S. (1999). “Gerusan Lokal di Sekitar Abutmen Jembatan.” Tesis Magister Teknik. PPS UGM, Yogyakarta. Miller Jr, W. (2003). ”Model For The Time Rate Of Local Sediment Scour at a Cylindrical Structure.” Disertasi. Florida. PPS Universitas Florida. Legono, D. (1990). Gerusan Pada Bangunan Sungai, PAU Ilmuilmu Teknik UGM, Yogyakarta. Mira, S. (2004). ”Pola Gerusan Lokal Berbagai Bentuk Abutment dengan Adanya Variasi Debit.” Tugas Akhir, Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta. Prasetia, S.P. (2001). ”Model Pengendalian Gerusan Lokal Akibat Aliran Superkritik di Hilir Pintu Air.” Tesis, PPS UGM, Yogyakarta. Rinaldi. (2002). ”Model Fisik Pengendalian Gerusan di Sekitar Abutmen Jembatan.” Tesis, PPS UGM, Yogyakarta. Sucipto dan Qudus, N. (2004). ”Analisis Gerusan Lokal di Hilir Bed Protection.” Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan, No.1 Vol. 6, Januari 2004. UNNES, Semarang.en_US
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/1689
dc.description.abstractAliran sungai dapat menyebabkan gerusan yang disebabkan oleh morfologi sungai itu sendiri. Gerusan bisa terjadi pada konstruksi tikungan sungai atau pada bangunan hidrolik. Secara umum untuk meminimalkan gerusan adalah dengan melindungi dasar sungai. Upaya ini juga diarahkan untuk memindahkan lubang gerusan yang dapat meningkatkan risiko lebih jauh pada stabilitas struktural dari bangunan. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan groundsill sebagai pelindung. Penelitian tentang jarak penempatan groundsill diterapkan pada gerusan dengan kondisi gerusan air jernih (clear water scour). Kedalaman gerusan diamati pada waktu tertentu, masing-masing internal 180 menit dan digunakan alat sirkulasi flume dengan dasar kaku, juga abutmen dari kayu yang dimensinya adalah La = 12 cm, B = 8 cm dan H = 30 cm . Sedangkan pengendali gerusan digunakan groundsill dari kayu. Pada penelitian ini menggunakan material pasir dengan dimensi butiran yang berbeda-beda, ada bahan A dan bahan B dengan d50 = 0,51 mm dan 0,36 mm, dan berat jenisnya 2,99 gram/cm3 yang ditaburkan di sepanjang saluran tersebut. Kecepatan pada percobaan ini bervariasi yaitu V1 = 0,22 m / s dan V2 = 0,19 m / s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material dasar dan parameter lainnya dapat mempengaruhi kedalaman gerusan dan pola gerusan. Sedangkan penempatan grounsill sebagai pelindung dari gerusan. Untuk debit yang sama, semakin jauh penempatan groundsill maka menyebakan semakin dangkal kedalaman gerusan. Dengan bertambahnya debit, bilangan Froude dan kecepatan aliran, maka kedalaman gerusan menjadi lebih dalam untuk jarak groundsill yang sama. Pada material A reduksi gerusan terjadi pada L1 (2B) = 23,75%, L2 (3B) = 30,84% dan L3 (4B) = 35,42%. Sedangkan pada material B reduksi gerusan terjadi pada L1 (2B) = 32,15%, L2 (3B) = 37,64% dan L3 (4B) = 41,15%.en_US
dc.publisherlppmumsen_US
dc.subjectAbutmenen_US
dc.subjectgroundsillen_US
dc.subjectgerusan lokalen_US
dc.titleGROUNDSILL REPLACEMENT ANALYSIS AS PROTECTION FOR BRIDGE ABUTMENT FROM LOCAL SCOURen_US
dc.title.alternativeANALISIS PENEMPATAN GROUNDSILL SEBAGAI PERLINDUNGAN ABUTMENT JEMBATAN TERHADAP GERUSAN LOKALen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record