Now showing items 1-20 of 23

    Authors Name
    Amdani, Suud [1]
    Aryanto, Darojat [4]
    Asy’arie, Musa [4]
    Baidhawy, Zakiyuddin [4]
    Darmawan, M. Farid [4]
    Fajriah, Siti [1]
    Hamdani, Fitrah [1]
    Handayani, Retno Kawuri [3]
    Haq, Fajar Riza Ul [4]
    Hartatik, Sri [1]
    Kardiyanto, Wawan [4]
    Khisbiyah, Yayah [4]
    Khoiriyah, Rif ’atul [4]
    Lebaran, Idul Fitri, Hari Raya, dan “Bakda” adalah istilah berbeda dengan makna yang sama. Berakhirnya bulan ramadhan. Bagi sebagian orang, berakhirnya bulan ramadhan berarti suka-ria karena kehidupan kembali seperti semula setelah tempaan batin sebulan lamanya. Namun demikian, bagi sebagian yang lain, kepergian bulan ramadhan justru dilepas dengan duka-cita karena lezatnya ramadhan telah tiada, dan berkah ramadhan setahun tertunda. Lebaran yang khas Indonesia ini dirayakan dengan berkumpul bersama keluarga. Yang dirantau ingin pulang; yang bertebaran ingin datang, ingin bersua handai taulan. Yang dituju rumah orangtua, atau orang yang dituakan. Saling bertemu dan bersilaturahim. Ada “bakdan”, ada “ujung”, atau halal bi halal. Saling berkunjung, saling menjamu, saling bermaafan. Berbagi cerita, berbagi kegembiraan. Setiap orang tampil ceria, dan bila perlu tampil beda. Baju baru, perhiasan baru, atau bahkan mobil baru. Bagi sebagian, berlebaran sedemikian penting. Mereka kecewa, merasa berhutang, atau bahkan merasa bersalah, bila tak bisa berlebaran. Banyak yang terpaksa menguras tabungan untuk dapat “mudik lebaran”. Banyak yang mempertaruhkan keselamatan untuk terbawa angkutan lebaran. Penat badan tidak dirasa, berdesakan tiada mengapa, panas dan hujan bukan penghalang; yang terbayang kampung halaman. Ada yang khas dengan lebaran. Gembira-ria ber­kumpul bersama keluarga, melepas kerinduan, dan saling bermaafan. Memaafkan yang khilaf, mengurai yang kusut, menyambung yang terputus, mempertemukan yang terpisah, menyatukan yang terpecah, mencairkan yang membeku, melelehkan yang membatu, melenturkan yang kaku, melembutkan yang mengeras, membuka yang tertutup, menyuarakan yang terdiamkan, menyalurkan yang tersumbat, mendengarkan yang terabaikan, mengetengahkan yang terpinggirkan, menerima yang terusir, merelakan yang mengganjal, mengembalikan yang hilang, mendamaikan yang berselisih, dan menyelesaikan yang dipermasalahkan. Halal bi halal. Halal bi halal mampu menembus berbagai sekat, baik tingkat sosial-ekonomi, etnisitas, keagamaan, maupun ideologi politik. Halal bi halal tak hanya penting atas dasar keturunan, tetapi juga berdasarkan wilayah, lembaga atau unit kerja, profesi, dan bahkan politik. Ada halal bi halal RT, desa atau kelurahan; ada halal bi halal kantor atau perusahaan; ada halal bi halal pegawai, guru, atau dokter; dan ada pula halal bi halal partai. Betapa beruntung bangsa Indonesia karena memiliki tradisi lebaran. Perekat sosial yang luar biasa. Mobilitas tiada terkira: pergerakan manusia, pergerakan barang, pergerakan uang. Betapa beruntung bangsa Indonesia karena memiliki tradisi lebaran. Pembersihan dosa setahun sebelumnya. Rekonsiliasi atas apa yang telah terjadi. Problem-solving dan optimisme hidup. Lebaran telah datang beratus kali. Halal bi halal tak pernah tertinggal. “Ujung” senantiasa berlangsung. Tetapi apa yang sesungguhnya terjadi? Di antara dua lebaran, korupsi tak pernah berhenti, bahkan menjadi-jadi. Di antara dua lebaran, tiada hari tanpa penipuan, pemalsuan, pencurian, penyerangan, penindasan, pertikaian, permusuhan, perampokan, perampasan, perkosaan, pembunuhan. Di antara dua lebaran, hari-hari penuh dengan kebohongan, kedengkian, keirian, kecemburuan, ketololan, kekhilafan, kejahatan, kerusakan, kerusuhan. Jangan-jangan, lebaran bukan penebusan dosa setahun sebelum­nya, tetapi pengesahan kejahatan setahun berikutnya. [1]
    Nurchasanah, Yenny [1]
    Putro, Ginanjar Bagyo [1]
    Sadli, Ali Moh. [4]
    Santoso, M.A. Fattah [1]
    Setyaningsih, Dwi [4]
    Tammaka, Mh. Zaelani [4]