Show simple item record

dc.contributor.authorKurniasih, Wulan
dc.contributor.authorPratisti, Wiwien Dinar
dc.date.accessioned2013-12-13T07:49:03Z
dc.date.available2013-12-13T07:49:03Z
dc.date.issued2013-06-01
dc.identifier.citationAisyah, S. (2010). Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Tingkat Agresivitas Anak. Jurnal MEDTEK, Vol. 2 No. 1. Augustyniak, K. M., Brooks, M., Rinaldo, V. J., Bogner, R., & Hodges, S. (2009). Emotion Regulation: Considerations for School – Based Group Interventions. The Journal for Specialists in Group Work, Vol. 34 No. 4, p. 326 – 350. Brown, C. L. (2011). The Effects of Parental Conflict and Close Friendships on Emotion Regulation in Adolescence. University of Virginia Press. Chang, L., Schwartz, D., Dodge, K. A., & McBride-Chang, C. (2003). Harsh Parenting in Relation to Child Emotion Regulation and Agression. Journal of Family Psychology, Vol. 17, No. 4, p. 598 – 606. Diamond, L. M., & Aspinwall, L. G. (2003). Emotion Regulation Across the Life Span : An Integrative Perspective Emphasizing Self - Regulation, Positive Affect, and Dyadic Processes. Motivation and Emotion, Vol. 27, No. 2 , Vol. 27 No. 2, p. 125 - 156. Frazier, Barbara. (2012). Assessing Your Parenting Style [online]. www.thesuccessfulparent.com/parenting-style/assessing-your-parenting-style diakses pada hari Minggu tanggal 4 November 2012 pukul 23.48 WIB. Garnefski, N., & Kraaij, V. (2007). The Cognitive Emotion Regulation Questionnaire Psychometric Features and Prospective Relationship with Depression and Anxiety in Adults. European Journal of Psychological Assesment, Vol. 23, No. 3, p. 141 – 149. Gross, J. J. (1998). The Emerging Field of Emotion Regulation: An Integrative Review. Review of General Psychology, Vol. 2, No. 3, p. 271 – 299. Gross, J. J. (1999). Emotion Regulation: Past, Present, Future. Cognition and Emotion, Vol. 13, No. 5, p. 551- 573. Hude, M. D. (2008). Emosi (Penjelajahan Religio – Psikologis tentang Emosi Manusia dalam Al – Qur’an). Jakarta: Erlangga. Kalat. J. W., & Shiota, M. N. (2007). Emotion. USA: Thomson Higher Education. Okorodudu, G. N. (2010). Influence of Parenting Style on Adolescent Delinquency in Delta Central Senatorial District. Edo Journal of Counselling, Vol. 3, No. 1, p. 58 – 86. Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development (Perkembangan Manusia). Jakarta: Salemba Humanika. Putnam, K. M., & Silk, K. R. (2005). Emotion Dysregulation and the Development of Borderline Personality Disorder. Development and Psychopatology, Vol. 17, p. 899 – 925. Santrock, J. W. (2007). Perkembangan Anak. (ed. 11). Jakarta: Erlangga. Sunarto, & Hartono, B. A. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Rineka Ciptaen_US
dc.identifier.isbn9789796361533
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/3969
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui, memahami, dan mendeskripsikan regulasi emosi pada remaja yang memiliki pola asuh otoriter. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang dikombinasikan dengan metode kuantitatif. Informan dalam penelitian ini adalah remaja yang berusia 15 sampai dengan 18 tahun. Pola asuh otoriter diungkap melalui skala pola asuh otoriter, sedangkan regulasi emosi pada remaja yang memiliki pola asuh otoriter diungkap menggunakan kuesioner tertutup tentang regulasi emosi. Hasil penelitian yang berasal dari skala pola asuh otoriter menunjukkan bahwa dari 69 remaja, sebanyak 4,34% remaja memiliki pola asuh otoriter sangat tinggi, 20,29% memiliki pola asuh otoriter tinggi, 42,03% memiliki pola asuh otoriter sedang, 46,38% memiliki pola asuh otoriter rendah, dan sebanyak 0% memiliki pola asuh otoriter sangat rendah. Berdasarkan hasil dari skala pola asuh otoriter tersebut, diperoleh 17 remaja yang memiliki kategori sangat tinggi dan tinggi. Selanjutnya subjek penelitian diberi kuesioner tertutup tentang regulasi emosi. Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 4 remaja cenderung menggunakan strategi regulasi emosi yang positif dalam menghadapi permasalahan di lingkungan keluarga, teman sebaya, sekolah, dan masyarakat seperti kembali fokus pada perencanaan awal, fokus pada hal-hal positif, bersedia menerima peristiwa apapun sebagai bagian dari kehidupannya, mengevaluasi peristiwa yang dihadapi secara lebih positif, dan berusaha menempatkan peristiwa yang dihadapi sesuai dengan perspektifnya; dan sebanyak 13 remaja yang memiliki kecenderungan menggunakan strategi regulasi emosi kombinasi antara positif dan negatif dalam menghadapi permasalah kehidupan. Strategi yang digunakan adalah fokus pada perencanaan awal, focus pada hal-hal yang positif, bersedia menerima peristiwa apapun sebagai bagian dari kehidupannya, mengevaluasi peristiwa yang dihadapi secara lebih positif, dan berusaha menempatkan peristiwa yang dihadapi sesuai dengan perspektifnya, meskipun kadang-kadang masih menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, mencoba memahami kembali, dan katastrop.en_US
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Surakartaen_US
dc.subjectRegulasi Emosien_US
dc.subjectPola Asuh Otoriteren_US
dc.subjectRemajaen_US
dc.titleRegulasi Emosi Remaja yang Diasuh secara Otoriter oleh Orangtuanyaen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record