Show simple item record

dc.contributor.authorSuthanaya, Putu Alit
dc.date.accessioned2012-09-06T17:58:33Z
dc.date.available2012-09-06T17:58:33Z
dc.date.issued2011-09
dc.identifier.citationAnderson, W.P., Kanaroglou, P.S. and Miller, E.J. (1996). “Urban Form, Energy and the Environment: Review of Issues, Evidence and Policy.” Urban Studies, 33 (1), pp. 7-35. Black, J.A. (1993). “Energy Efficient Coordination of Land Use and Transport Interaction in Australian Cities – A Perspective on Higher Housing Densities.” A Paper Prepared for SIG 1 Seminar on Environmental Challenges in Land Use Transport Coordination. Blackheath. New South Wales. Australia. Brunton, P., and Brindle, R. (1999). “The Relationship between Urban Form and Travel Behaviour.” Research Report ARR 335, ARRB Transport Research. Giuliano, G., and Dargay, J. (2006). “Car ownership, travel and land use: a comparison of the US and Great Britain.” Transportation Research Part A, 40, pp. 106–124. Gordon, P., Lee, B., Moore, J.E., and Williamson, C. (2004). “Neighborhood Attributes and Commuting Behavior: Transit Choices.” Metrans Project 03-20, University of Southern California, Los Angeles, California. Hass-Klau, C. (1990). “Public Transport and Integrated Transport Policies in Large Metropolitan Areas of Europe.” The Planner, 25th May, pp. 13-20. Kawabata, M., Matsumoto, S., Sano, K., and Tsuchiya, S. (2009). “Car Passenger Transport and Barriers to Community Bus Use in a Mountainous Underpopulated Region in Japan.” Proceedings of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, Vol.7. Kusumantoro, I.P., Rachmat, S.Y., Fajri, H., and Rachmalia, M. (2009). “The Impact of Settlement Spatial Pattern in Fringe Area to Community Movement, Case Study: Bandung City.” Proceedings of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, Vol.7. Montis, A.d., Chessa, A., Campagna, M., Caschili, S., and Deplano, G. (2010). “Modeling Commuting Systems Through A Complex Network Analysis: A Study of the Italian Islands of Sardinia and Sicily.” Journal of Transport and Land Use, 3(4), pp. 39-55. Newman, P. and Kenworthy, J. (1999). Sustainability and Cities: Overcoming Automobile Dependence. Island Press. Washington, D.C. NSW Transport Data Center. (2002). Journey to Work Data, New South Wales Department of Transport, Sydney, Australia. Stead, D. (2001). “Relationship between Land Use, Socioeconomic Factors, and Travel Patterns in Britain.” Environment and Planning B: Planning and Design, 28, pp. 499- 528. Tang, U.W. and Wang, Z.S. (2007). “Influences of urban forms on traffic-induced noise and air pollution: Results from a modelling system.” Environmental Modelling & Software, 22, pp. 1750-1764. Vance, C., and Hedel, R. (2007). “The impact of urban form on automobile travel: disentangling causation from correlation.” Transportation, 34, pp.575–588. Yang, J. and Gakenheimer, R. (2007). “ Assessing the transporttation consequences of land use transformation in urban China.” Habitat International, 31, pp. 345–353. Zhang, M. (2005). “Exploring the relationship between urban form and nonwork travel through time use analysis.” Landscape and Urban Planning, 73, pp.244–261.en_US
dc.identifier.issn1411-8904
dc.identifier.urihttp://hdl.handle.net/11617/1971
dc.description.abstractSub-urbanisasi pekerja dan desentralisasi pekerja permukiman yang dialami oleh lebih banyak kota telah memberikan kontribusi lebih tergantung pada mobil dan menurunnya penggunaan angkutan umum, yang mengarah pada berkurangnya keberlanjutan kota dari waktu ke waktu. Untuk mengatasi kondisi ini, perlu memahami bagaimana perubahan-perubahan perkotaan sebagai pengaruh perubahan-perubahan perjalanan untuk pilihan moda pada wilayah permukiman. Dengan menggunakan Data Journey 1981-1996 untuk wilayah Metropolitan Sidney dan mengaplikasikan regresi bergamda, penelitian ini menyelidiki hubungan antara perubahan-perubahan bentuk perkotaan dan perubahan-perubahan pilihan-pilihan moda masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa daerah sekitar perumahan mengalami peningkatan yang signifikan lebih tinggi menggunakan ankutan umum bus dibandingkan dengan daerah dalam permukiman dan di tengah-tengah permukiman. Pada sisi lain, di daerah permukiman mengalami peningkatan secara signifikan lebih besar proporsinya menggunakan kereta daripada daerah lain sekitarnya. Local Government Areas (LGAs) dengan peningkatan yang lebih besar dalam aksesibilitas bekerja menggunakan bus dan peningakatan lebih besar dalam jarak rata-rata pekerjaan yang dikaitkan dengan proporsi penggunaan mobil mengalami penurunan besar. Peningkatan ratio pekerja-pekerja permukiman ke tempat kerja dan aksesibiltas pekerjaan menggunakan mobil dikaitkan dengan proporsi penggunaan bus. Rata-rata peningkatan jarak pekerjaan, proporsi pekerja yang bekerja dalam CBD dan proporsi pekerja permukiman dikaitkan dengan proporsi penggunaan kereta mengalami peningkatan.en_US
dc.subjectbentuk perkoataanen_US
dc.subjectpilihan modeen_US
dc.subjectregresi bergandaen_US
dc.titleBAGAIMANA PERUBAHAN-PERUBAHAN BENTUK PERKOTAAN AKIBAT PENGARUH PERUBAHAN PILIHAN PERJALANAN UNTUK MODE KERJA (STUDI KASUS DI WILAYAH METROPOLITAN SIDNEYen_US
dc.title.alternativeHOW CHANGES IN URBAN FORM INFLUENCES CHANGES IN JOURNEY TO WORK MODE CHOICE (A CASE STUDY OF SYDNEY METROPOLITAN REGION)en_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record